logo

Copyright ©2016 YBM PLN

Detail Rubrik

Marselina Yang Malang Itu Kini Tersenyum Kembali

Tak ada yang menyangka di usia kehamilannya yang ke 6 bulan, Marselina harus kehilangan bayi yang sedang dikandungnya. Selain itu, dia pun hampir tak terselematkan jika tidak cepat mendapatkan penanganan dari dokter. Kondisinya kritis karena menderita keracunan air ketuban yang sudah parah.

Waktu itu, wanita 21 tahun ini sedang  makan malam di rumah bersama suami dan mertuanya. Tidak ada hal yang aneh dengan dirinya pada saat itu, namun setelah selesai makan, dia merasakan pusing dan sakit perut, kemudian berlanjut muntah-muntah dan perutnya makin sakit hingga kejang-kejang dengan sekujur badan yang membiru. Akhirnya Didin (23), suami Marselina, memutuskan untuk membawanya ke Rumah Sakit (RS).

Masalah berlanjut saat sampai di RS  yang pertama yaitu RS Militer, ternyata ruang ICU disana sudah penuh, lalu dikontaklah RS Umum Daerah, ternyata penuh juga. Karena kondisi Marselina semakin kritis, maka terpaksa dilarikan ke RS swasta yang masih tersedia ruang ICUnya.

Namun setelah sampai disana, masalah lain datang lagi. Pihak RS mensyaratkan keluarga harus membayar  sebesar  5 Juta Rupiah sebagai uang muka. Pada saat itu keluarga hanya berbekal kartu BPJS saja dan tidak membawa uang sepeser pun. Karena RS ini tidak menerima pembayaran dengan BPJS, akhirnya suaminya mencari pinjaman ke saudara dan teman-temannya.

Setelah berkeliling dari saudara yang satu ke saudara yang lain dan dari teman yang satu ke teman yang lain, akhirnya terkumpul pinjaman sebesar 3 Juta Rupiah. Dengan uang tersebutlah suaminya membayar uang muka sambil melobi pihak RS agar  mengijinkan istrinya untuk segera ditangani.

Setelah mendapat tindakan dari dokter, bayi ada dalam kandungannya dapat keluar dalam kondisi sudah meninggal. Tapi ari-ari masih tertinggal dalam perut sehingga harus dilakukan tindakan kuret untuk mengeluarkannya.

Setalah 3 hari dirawat di RS, kondisi Marselina berangsur membaik dan diperbolehkan untuk dirawat di rumah.

Namun saat Marselina hendak dibawa pulang, keluarga dibuat kaget dengan biaya yang harus dibayarkan kepada pihak RS. Mereka harus membayar biaya selama Marselina di sana sebesar Rp 14.600.000. Jika tidak bisa membayar, maka dia belum boleh pulang dan harus menginap lagi disana yang otomatis akan menambah biaya lagi.

Rabu, 28/02/2018 sampailah kabar tersebut ke YBM PLN Wilayah Kalbar. Tim YBM PLN pun langsung tanggap dengan melakukan survey ke RS dan rumah tinggal marselina untuk memastikan kebenaran info tersebut.  Setelah hasil survey didapat dan marselina dinyatakan layak dibantu dengan dana zakat, maka bantuan pun segera diberikan oleh YBM PLN dengan membayar penuh biaya yang harus dibayar oleh keluarga Marselina yaitu sebesar Rp 14.600.000.

Marselina adalah seorang mullaf yang diusir oleh keluarga karena keputusannya masuk Islam. Dia merupakan seorang wanita yang tangguh dan berjiwa social tinggi. Aktifitas sehari-harinya adalah seorang pengajar di salah satu program sekolah untuk anak jalanan. Sedangkan Didin adalah seorang pria sederhana namun penuh tanggung jawab. Dia bekerja sebagai kolektor di perusahaan leasing, selain itu dia juga menerima jasa perbaikan dan memberikan pelatihan komputer.

Selama ini Marselina dan Didin tinggal serumah bersama orang tua Didin di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Rumah tersebut adalah rumah yang dikontrak oleh orang tua Didin. Kondisi rumah sangat penuh dengan keterbatasan, terbuat dari kayu dan penuh dengan tambalan serta terletak di tepi sungai Kapuas.

“Saya dan keluarga sangat berterimakasih kepada YBM PLN dan para muzakki PLN yang sudah mau membantu kami yang tidak mampu ini keluar dari masalah berat, kalau tidak dibantu oleh YBM PLN, kami tidak tahu lagi harus meminta bantuan siapa untuk membayar biaya sebesar itu.” Ujar Didin, Suami Marselina, dengan mata yang berkaca-kaca.

“Kami mendoakan semoga YBM PLN bisa terus maju, dan semua muzakki PLN dimudahkan rejekinya dan dilimpahkan Rahmat dari allah Subahanahu wataala” tambahnya.

Share:


Share to Facebook